
Tempe dapat menghambat mekanisme pembentukan dua senyawa tersebut berdasarkan penghambatan ekspresi gen-gen yang terlibat dalam pembentukan penyakit Alzheimer menggunakan teknik real-time PCR.
Jika dibandingkan dengan galanthamine dan donepezil sebagai obat komersial penderita Alzheimer, sari tempe juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan proses kolinergik (komunikasi sel otak) di otak lewat penghambatan enzim asetilkolinesterase dan butirilkolinesterase melalui analisis enzimatik spektrofotometri.
Pada penderita Alzheimer, kedua enzim ini memecah neurotransmitter di otak secara berlebihan sehingga komunikasi antarsel otak menjadi terhambat.
Ekstrak minyak tempe ini juga dapat menangkal aktivitas radikal bebas di otak. Asam lemak omega 3 golongan asam linonenat, yang berhasil diekstraksi dari tempe dalam penelitian tim Fakultas Teknobiologi Unika Atma Jaya, diduga kuat berperan dalam aktivtas tersebut untuk mencegah pembentukan penyakit Alzheimer.
Banyak riset lain yang melaporkan peranan omega 3, yang umumnya didapatkan dari minyak ikan dalam menjaga kesehatan otak.
Peranan tempe untuk mencegah dan mengurangi perkembangan Alzheimer juga dibuktikan lewat adanya peningkatan kemampuan kognitif otak setelah mengonsumsi tempe. Temuan ini merupakan hasil riset dari tim Fakultas Kedokteran dan Teknobiologi Unika Atma Jaya yang melibatkan 90 penderita demensia tingkat rendah pada lansia laki-laki dan perempuan.
Dari jumlah itu, 30 peserta pertama dan 30 peserta kedua diberi makanan tempe selama enam bulan. Sedangkan 30 peserta dijadikan kelompok kontrol yang tidak diberi tempe. Hasilnya, menurut riset ini, setelah responden mengonsumsi tempe, fungsi kognitif mereka, antara lain kemampuan daya ingat, kelancaran penggunaan bahasa, dan kemampuan untuk memperhatikan, meningkat.
Selain itu, banyak riset lain yang menemukan berbagai senyawa pada tempe diduga kuat sebagai alasan utama tempe dapat membantu penghambatan perkembangan penyakit Alzheimer.
Senyawa antioksidan golongan flavonoid bernama daidzein dan genistein dapat menghambat enzim beta secretase dalam proses pembentukan penyakit Alzheimer. Probiotik golongan bakteri asam laktat, yang umum ditemukan pada tempe, juga dapat mencegah sel otak dari kerusakan.
Penyakit mematikan yang bisa dicegah
WHO menggolongkan Alzheimer sebagai salah satu dari 10 penyakit paling mematikan di dunia pada 2019 hingga sekarang.
Tingkat kematian akibat penyakit tidak menular ini ini semakin meningkat akibat banyak orang yang menyepelekan gaya hidup sehat untuk menunjang kesehatan otak saat masa tua nanti.
Tidak aktif berolahraga, merokok, dan tidak melakukan hobi yang melatih kerja otak seperti membaca buku atau melakukan permainan yang mengasah daya ingat dan berpikir otak, merupakan pemicu menurunnya kesehatan otak.
Kita perlu mengkampanyekan pentingnya menjaga kesehatan otak sejak dini dengan mengkonsumsi berbagai produk fermentasi, salah satunya tempe, pangan kaya asam lemak omega 3, buah, dan sayur.
Selain pola makan yang sehat, olahraga yang teratur serta istirahat yang cukup mulai dari usia muda hingga lansia, juga perlu dibiasakan untuk membantu memelihara kesehatan otak.
Untuk menjaga kesehatan secara umum, Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan anjuran pedoman gizi seimbang dan olahraga 30 menit setiap hari.
Secara khusus, Kementerian Kesehatan juga mengeluarkan imbauan untuk menjaga kesehatan jantung dan otak kita agar dapat tercegah dari penyakit Alzheimer.
Banyak mengkonsumsi sumber asam lemak omega 3 (ikan dan kacang-kacangan) dan rutin berolahraga, dapat membantu melepaskan stres dan meningkatkan kesehatan raga dan otak.
Dan jangan lupa makan tempe yang tersedia di mana-mana di Indonesia.
Sumber: Kompas.com